Pengertian
Belajar menurut Piaget
Menurut Piaget, bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan
dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Peserta didik hendaknya
diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang
oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari
guru. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau
berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal
dari lingkungan.Menurut Piaget pengetahuan (knowledge) adalah interaksi yang
terus menerus antara individu dengan lingkungan. Fokus perkembangan kognitif
Piaget adalah perkembangan secara alami fikiran pebelajar mulai anak-anak
sampai dewasa. Konsepsi perkembangan kognitif Piaget, duturunkan dari analisa
perkembangan biologi organisme tertentu. Menurut Piaget, intelegen
(IQ=kecerdasan) adalah seperti sistem kehidupan lainnya, yaitu proses adaptasi.
B. Teori Belajar menurut Piaget
Pendapat Piaget mengenai perkembangan proses belajar pada anak-anak adalah:
1. Anak mempunyai struktur mental yang berbeda dengan orang dewasa. Mereka bukan merupakan orang dewasa dalam bentuk anak kecil, mereka mempunyai cara yang khas ntuk menyatakan kenyataan dan untuk menghayati dunia sekitarnya. Maka memerlukan pelayanan tersendiri dalam belajar.
1. Anak mempunyai struktur mental yang berbeda dengan orang dewasa. Mereka bukan merupakan orang dewasa dalam bentuk anak kecil, mereka mempunyai cara yang khas ntuk menyatakan kenyataan dan untuk menghayati dunia sekitarnya. Maka memerlukan pelayanan tersendiri dalam belajar.
2. Perkembangan mental pada anak melalui tahap-tahap tertentu, menurut
suatu urutan yang sama bagi semua anak.
3. Walaupun berlangsungnya tahap-tahap perkembangan itu melalui suatu urutan
tertentu tetapi jangka waktu untuk berlatih dari satu tahap ke tahap yang lain
tidaklah selalu sama pada setiap anak.
4. Perkembangan mental anak dipengaruhi oleh 4 faktor, yaitu:
a. Kemasakan
b. Pengalaman
c.Interaksi Sosial
d. Equilibration (proses dari ketiga faktor di atas bersama-sama untuk
membangun dan memperbaiki struktur mental)
5. Ada 4 tahap perkembangan yaitu:
a. Tahap Sensori motor (0-2,0 tahun)
b. Tahap Pre operasional (2,0-7,0 tahun)
c. Tahap konkret (7,0-11,0 tahun)
d. Tahap operasi formal (11,0-dewasa)
C. Tahap Perkembangan Mental
1. Tahap Sensori motor (0 – 2,0 tahun)
Pada periode ini tingkah laku anak bersifat motorik dan anak menggunakan
system penginderaan untuk mengenal lingkungannya untuk mengenal obyek.
Ciri pokok perkembangannya anak mengalami dunianya melalui gerak dan inderanya serta mempelajari permanensi obyek. Karakteristik anak yang berada pada tahap ini adalah sebagai berikut:
v Berfikir melalui perbuatan (gerak).
Ciri pokok perkembangannya anak mengalami dunianya melalui gerak dan inderanya serta mempelajari permanensi obyek. Karakteristik anak yang berada pada tahap ini adalah sebagai berikut:
v Berfikir melalui perbuatan (gerak).
v Perkembangan fisik yang dapat
diamati adalah gerak-gerak refleks sampai ia dapat berjalan dan bicara.
v Belajar mengkoordinasi akal dan
geraknya.
v Cenderung intuitif egosentris,
tidak rasional dan tidak logis.
Contoh : Pengalaman awal bayi dengan payudara ibunya (Inisiasi) dan bayi yang pertama kali memasukan jari-jarinya ke dalam mulut. Kemampuan yang dicapai anak pada masa ini:
Contoh : Pengalaman awal bayi dengan payudara ibunya (Inisiasi) dan bayi yang pertama kali memasukan jari-jarinya ke dalam mulut. Kemampuan yang dicapai anak pada masa ini:
a) Kemampuan mengontrol secara internal, yaitu terbentuknya control dari
dalam pikirannya terhadap dunia nyata.
b) Perkembangan konsep kenyataan.
c) Perkembangan pengertian beberapa sebab akibat
2. Tahap Pre operasional (2,0 – 7,0 tahun)
Pada periode ini anak bisa melakukan sesuatu sebagai hasil meniru atau
mengamati sesuatu model tingkah laku dan mampu melakukan simbolisasi.Ciri pokok
perkembangannya adalah penggunaan symbol/bahasa tanda dan konsep intuitif.
Karakteristik anak pada tahap ini adalah sebagai berikut:
Ø Anak dapat mengaitkan pengalaman
yang ada di lingkungan bermainnya dengan pengalaman pribadinya, dan karenanya
ia menjadi egois. Anak tidak rela bila barang miliknya dipegang oleh orang
lain.
Ø Anak belum memiliki kemampuan untuk
memecahkan masalah-masalah yang membutuhkan pemikiran “yang dapat dibalik
(reversible).” Pikiran mereka masih bersifat irreversible.
Ø Anak belum mampu melihat dua aspek dari satu objek atau situasi sekaligus, dan belum mampu bernalar (reasoning) secara individu dan deduktif.
Ø Anak belum mampu melihat dua aspek dari satu objek atau situasi sekaligus, dan belum mampu bernalar (reasoning) secara individu dan deduktif.
Ø Anak bernalar secara transduktif
(dari khusus ke khusus). Anak juga belum mampu membedakan antara fakta dan
fantasi. Kadang-kadang anak seperti berbohong. Ini terjadi karena anak belum
mampu memisahkan kejadian sebenarnya dengan imajinasi mereka.
Ø Anak belum memiliki konsep kekekalan (kuantitas, materi, luas, berat dan isi).
Ø Menjelang akhir tahap ini, anak mampu memberi alasan mengenai apa yang mereka percayai. Anak dapat mengklasifikasikan objek ke dalam kelompok yang hanya mempunyai satu sifat tertentu dan telah mulai mengerti konsep yang konkrit.
Contoh : pandangan anak terhadap dua tanah liat sama besar yang dibulatkan, kemudian bulatan yang satu dipipihkan dan yang satu tetap dalam keadaan bulat.
3. Tahap konkret (7,0 – 11,0 tahun)
Ø Anak belum memiliki konsep kekekalan (kuantitas, materi, luas, berat dan isi).
Ø Menjelang akhir tahap ini, anak mampu memberi alasan mengenai apa yang mereka percayai. Anak dapat mengklasifikasikan objek ke dalam kelompok yang hanya mempunyai satu sifat tertentu dan telah mulai mengerti konsep yang konkrit.
Contoh : pandangan anak terhadap dua tanah liat sama besar yang dibulatkan, kemudian bulatan yang satu dipipihkan dan yang satu tetap dalam keadaan bulat.
3. Tahap konkret (7,0 – 11,0 tahun)
Pada periode ini anak sudah mampu menggunakan operasi. Pemikiran anak tidak
lagi didominasi oleh persepsi, sebab anak mampu memecahkan masalah secara
logis.
(Ciri pokok perkembangannya anak mulai berpikir secara logis tentang kejadian-kejadian konkret).
Contoh : Anak sudah dapat membedakan ukuran binatang, ataupun sudah dapat mengelompokkannya.berdasarkan persamaan dan perbedaan ciri yang dimiliki.
(Ciri pokok perkembangannya anak mulai berpikir secara logis tentang kejadian-kejadian konkret).
Contoh : Anak sudah dapat membedakan ukuran binatang, ataupun sudah dapat mengelompokkannya.berdasarkan persamaan dan perbedaan ciri yang dimiliki.
4. Tahap formal (11,0 – dewasa)
Periode operasi fomal merupakan tingkat puncak perkembangan struktur
kognitif, anak remaja mampu berpikir logis untuk semua jenis masalah hipotesis,
masalah verbal, dan ia dapat menggunakan penalaran ilmiah dan dapat menerima
pandangan orang lain.
(Ciri pokok perkembangannya adalah hipotesis, abstrak, dan logis).
Contoh : Membuktikan benda-benda yang dapat larut dan yang tidak larut dalam air.
(Ciri pokok perkembangannya adalah hipotesis, abstrak, dan logis).
Contoh : Membuktikan benda-benda yang dapat larut dan yang tidak larut dalam air.
D. Penerapan Teori Piaget dalam Pembelajaran Matematika di SD/MI
Teori kognitif dan teori pengetahuan Piaget sangat banyak mempengaruhi bidang pendidikan, terlebih pendidikan kognitif. Tahap-tahap pemikiran Piaget sudah cukup lama mempengaruhi bagaimana para pendidik menyusun kurikulum, memilih metode pengajaran dan juga memilih bahan ajar terutama di sekolah-sekolah. Maka dari karya besar Piaget tersebut dapat diimplementasikan pada proses pembelajaran disekolah sesuai dengan teori perkembangannya itu sendiri. Implementasi pada pembelajaran matematika yang akan diterakan berikut hanya merupakan bentuk sebagian saja sebagai contoh yang cocok untuk pengetahuan dan pengembangan terhadap materi pembelajaran itu sendiri. Tentu yang terpenting adalah kesesuaian dengan pemilihan model, pendekatan serta metode dalam pembelajaran terhadap materi ajar.
Teori kognitif dan teori pengetahuan Piaget sangat banyak mempengaruhi bidang pendidikan, terlebih pendidikan kognitif. Tahap-tahap pemikiran Piaget sudah cukup lama mempengaruhi bagaimana para pendidik menyusun kurikulum, memilih metode pengajaran dan juga memilih bahan ajar terutama di sekolah-sekolah. Maka dari karya besar Piaget tersebut dapat diimplementasikan pada proses pembelajaran disekolah sesuai dengan teori perkembangannya itu sendiri. Implementasi pada pembelajaran matematika yang akan diterakan berikut hanya merupakan bentuk sebagian saja sebagai contoh yang cocok untuk pengetahuan dan pengembangan terhadap materi pembelajaran itu sendiri. Tentu yang terpenting adalah kesesuaian dengan pemilihan model, pendekatan serta metode dalam pembelajaran terhadap materi ajar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar